Tekla Membantu Membangun Terminal Internasional Ngurah Rai di Bali

Konstruksi sudah berlangsung di terminal internasional Ngurah Rai yang baru seluas 120.000 m2. Terminal internasional yang ada akan dikonversi menjadi terminal domestik seluas 65.000 m2. Bandara baru ini akan memiliki kapasitas 17 juta penumpang per tahun pada tahun 2020 dan 25 juta penumpang per tahun pada tahun 2035. Salah satu karakteristik yang paling unik dalam desain adalah atap yang bergelombang, mencerminkan laut yang memberi pulau itu pantai yang terkenal. Gelombang pada atap terdiri dari pipa bulat dalam berbagai ukuran dan diameter, yang dibentuk oleh pabrikator baja lokal P.T. Dutacipta Pakarperkasa (DCP). Dan perangkat lunak Tekla membantu DCP membangun bandara baru.

DCP menerima kontrak untuk membuat komponen baja untuk bandara pada bulan Austus 2012, dan tim tersebut langsung memilih Tekla untuk desain. DCP tidak asing dengan Tekla Structures, karena telah menggunakannya untuk Building Information Modelling bandara di Medan dan Lombok.

DCP telah mengunakan Tekla selama tiga tahun terakhir dan tidak lagi dapat membayangkan untuk kembali ke perangkat lunak 3D CAD biasa. DCP membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk membuat model 3D struktur baja bandara tersebut. Seandainya menggunakan perangkat lunak CAD biasa, akan membutuhkan waktu minimal dua kali lebih lama, papar Yoki Triwahyudi, Deputy Director of Design & Engineering perusahaan tersebut. “Selain itu, kami akan harus menggunakan 10 sampai 15 orang. Dengan Tekla, kami hanya membutuhkan tiga atau empat orang,” paparnya.

Mudah digunakan

Perbedaan antara menggunakan perangkat lunak CAD biasa dan Tekla Structures sangat besar, menurut Yoki. “Seperti menggunakan Windows 3.1 versus Windows 7. Berkat antarmuka penggunanya, Windows 7 jauh lebih mudah digunakan. Begitulah Tekla.” Karena lebih sedikit waktu dan jam kerja yang digunakan untuk membuat model, DCP menghemat waktu dan biaya desain.

Keunggulan lain yang mereka temukan adalah mudah untuk menangani perubahan dengan perangkat lunak Tekla. Hal ini penting karena proyek dirancang ulang di tengah jalan, sehingga komponen model harus dibuat ulang. “Ada perpustakaan di Tekla, sehingga jika kami perlu mengubah tipe pipa dalam model, bisa dilakukan dengan muidah. Kami hanya perlu mencari template untuk material tersebut lalu menyeretnya ke desain baru. Begitu mudah. Dengan perangkat lunak CAD biasa, kami akan harus membuatnya ulang, yang akan sangat lama.”

Perangkat lunak Tekla juga menangani penekukan pipa baja dengan mudah. Ini bagian yang sangat penting dari desain atap, sehingga Tekla harus bisa menangani geometri yang terkait. Papar Yoki: “Untuk membentuk gelombang, kami harus menekuk baja. Itu sangat menantang, dan akan sangat sulit dilakukan tanpa perangkat lunak. Namun, hampir semuanya memungkinkan dengan Tekla. Untuk menekuk pipa, kita hanya perlu menggambar tekukan dalam program. ”Keunggulan yang lain adalah perangkat lunak Tekla memudahkan untuk mendemonstrasikan aspek utama model kepada klien. “Untuk tekanan angin, kami dapat menunjukkan kepada pelanggan semua yang ingin mereka ketahui tentang apa yang kami gunakan di atap,” paparnya.

Bpk. Yoki juga menyukai fakta bahwa Tekla memungkinkan berbagai grup mengerjakan file yang sama secara bersamaan. “Satu orang bisa mengerjakan bagian kanan, sementara orang lain mengerjakan bagian kiri. Keduanya dapat merancang pada saat yang sama, dan hal itu membuat mereka lebih efisien.” Selain itu, dia menghargai kemampuan untuk memperbesar detail model dengan mudah. “Kami menggunakan web viewer, sehingga jika pelanggan menanyakan sambungan, kami dapat memperbesar ke semua posisi, serta dapat menjauh dan memiringkan untuk melihatnya dari sudut yang berbeda. Hal ini memungkinkan kami untuk lebih memuaskan pelanggan.”

Tekla mempercepat proses pabrikasi

Selain unggul dalam fase desain, Bpk. Yoki juga meyebutkan bahwa Tekla Structures juga unggul dalam fase pabrikasi. Tekla dapat langsung membuat file NC yang digunakan oleh mesin penekuk. Selain itu, Tekla mampu membuat daftar bahan dengan sangat cepat. Semua ini berlawanan dengan perangkat lunak CAD, yang membutuhkan banyak waktu untuk mengonversi model ke file NC. Akan lebih sulit juga membuat daftar bahan dari perangkat lunak CAD.

Pada fase ereksi, perangkat lunak Tekla tetap membuktikan nilainya. Ereksi atap sangat menantang karena ukuran dan kompleksitasnya. Atap lima baris berukuran 6- m kali 60 m, dan setiap baris harus ditopang tiga kolom, beberapa sepanjang 60 m. Akurasi begitu penting. Karena ukurannya, bagian-bagian atap harus diangkut terpisah ke lokasi sebelum dilas ke kolom. Model 3D yang dapat dibangun Tekla membantu pengelas melihat secara akurat bagaimana setiap bagian harus disambungkan.

Berkat kerja keras semua orang yang terlibat, proyek Bandara Internasional Ngurah Rai selesai tepat waktu. Bagi DCP, pengalaman ini sangat berguna bagi mereka. Meskipun sudah pernah menggunakan Tekla untuk fabrikasi struktur instalasi daya dan shelter baru bara serta dua bandara lain di Indonesia, atap lengkung Ngurah Rai baru bagi mereka. Setelah berhasil membangun bandara tersebut, DCP menatap masa dengan dengan keyakinan baru. Menurut Bpk. Yoki: “Kami memperoleh pengalaman dan siap untuk tantangan berikutnya.”

New International Terminal in Bali, Indonesia

Hampir semuanya memungkinkan dengan Tekla. Untuk menekuk pipa, kita hanya perlu menggambar tekukan pada model.
Yoki Triwahyudi
Deputy Director of Design & Engineering
P.T Dutacipta Pakarperkasa (DCP)